Pemuda Katolik Komda Aceh adakan Leadership dan Rakerda

Minggu, 22 juni 2014 diadakannya pesta ulang tahun Gereja Paroki Hati Kudus Banda Aceh yang tepatnya berusia 88 Tahun........

Pemuda Katolik Komda Aceh Ikuti Kongres Ke-XV

Organisasi Pemuda Katolik mengadakan Kongres Nasional Ke-XV pada 29 Juli- 1 Agustus 2012 di Function Hall Kapuas Palace Hotel Pontianak, Kalimantan Barat........

Masa Penerimaan Anggota (Mapenta)

Mapenta Pemuda Katolik Komda Aceh yang dilaksanakan pada tanggal 2-3 Juni 2012 yang bertempat di Wisma Kompas Universitas Syiah Kuala yang diikuti kurang lebih 30 peserta.

Pelantikan Pengurus Komda Aceh

Pelantikan dilaksanakan di gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus oleh Romo Vikariat Epsikopat Beato Dionisius dan Redemptus yaitu Romo Ramli Robertus Simarmata Pr. Pelantikan dilakukan dengan mengangkat sumpah seluruh pengurus Pemuda katolik Komda Aceh untuk menjalankan tugas dengan semaksimal mungkin.

Serah Terima Jabatan Ketua Komda Aceh

Minggu, 3 Mei 2012 jam 15:37 WIB bertempat di Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Banda Aceh,. Plh.Ketua Komda domisioner yaitu Asta Ivo Bonny S menyerahkan jas Pemuda Katolik kepada Romo Vikep sebagai simbol berakhirnya kepengurusan 2009-2012 lalu romo memberikan jas kepada Ketua Komda terpilih Kikin P. Tarigan S. sebagai tanda dimulainya kepengurusan periode 2012-2015.

Seminar Pemuda katolik Komda Aceh

Seminar yang bertajuk Tantangan Kaum Muda dalam Membangun Keberagaman di Aceh. dimana romo vikep, pembimas katolik, dan sekretaris dispora Aceh menjadi narasumber dalam seminar ini yang dipandu oleh saudara Kikin P. Tarigan S.

Muskomda Pemuda Katolik Komda Aceh

Suasana pada saat sidang muskomda pemuda katolik Komda Aceh. dimana saudara Jamin Purba menjadi pimpinan sidang.

Beato Pelindung Pemuda Katolik Komda Aceh

Pemuda Katolik Komda Aceh memiliki dua beato pelindung yaitu Beato Dionisius dan redemptus, nama beato ini juga digunakan sebagai nama Vikariat Epsikopal Banda Aceh.

Jumat, 27 Juni 2014

Pemuda Katolik Komda Aceh adakan Leadership dan Rakerda



Banda Aceh,22 Juni 2014


Foto Bersama Bapa Uskup dengan Pemuda Katolik Komda Aceh beserta Pastor Paroki

Minggu, 22 juni 2014 diadakannya pesta ulang tahun Gereja Paroki Hati Kudus Banda Aceh yang tepatnya berusia 88 Tahun. Dalam kesempatan yang luar biasa ini juga dihadiri oleh Bapa Uskup Agung Medan Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM Cap selain kehadiran Bapa uskup Pemuda Katolik dari seluruh cabang se-Aceh juga hadir dalam kesempatan tersebut. Hal ini dikarenakan bertepatan dengan acara Rakerda dan Leadership pemuda Katolik Komda Aceh yang diadakan pda tanggal 22-24 juni 2014 diama acara tersebut yang seyogyanya di buka oleh bapa uskup akan tetapi dikarenakan beliau harus kembali ke Medan untuk melanjutkan tugas pastoralnya sehingga acara yang berlangsung pun dibuka langsung oleh Bapak Pembimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Prov. Aceh yaitu Bapak Baron F. Pandiangan, S.Ag., M.Th dalam dalam sambutannya bapak Pembimas berpesan hendaklah Pemuda Katolik Komda Aceh menjadi organisasi yang bersinergi dengan OMK (Orang Muda Katolik) karena mengingat tantangan yang dihadapi oleh Pemuda Katolik Komda Aceh di provinsi aceh ini sangat jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia oleh sebab itu, kordinasi ke internal gereja merupakan hal yang sangat penting agar langkah-langkah yang diambil oleh Pemuda Katolik Komda Aceh dapat sejalan dengan kebijakan pastoral di Aceh. Selain itu, pembimas juga sangat menyayangkan ketidak hadiran Pengurus Pusat Pemuda Katolik. Menurut beliau seharusnya pengurus pusat memberikan perhatian yang ekstra untuk komda yang masih belia ini. Walaupun demikian, Pembimas tetap mengapresiasi kerja keras panitia yang menyukseskan acara ini. “Harus cekatan, Siap bekerja meski tertekan, jangan gampang menyerah itu baru namanya pemuda”tegas beliau dengan semangat. Leadership dan Rakerda yang mengambil tema”Peran Pemuda Dalam Menyongsong Harapan Baru Indonesia” merupakan suatu wujud dari eksistensi komda Aceh yang baru berusa 2 tahun tepatnya tanggal 2 juni lalu bahwa Pemuda Katolik di provinsi Aceh juga harus mengambil peran yang strategis demi mewujudkan  Aceh yang madani untuk seluruh elemen masyarakatnya. Di Misa Penutupan Leadership dan Rakerda komda Aceh juga dilaksanakan Pelantikan Pengurus Komisariat Cabang (Komcab) pemuda Katolik Se-Aceh. (Asta I. Bonny S., ST.)

Foto bersama Seluruh Peserta Leadership dan Rakerda Komda Aceh bersama Pembimas Katolik dan Pembimas Hindu.





Kamis, 05 Juni 2014

Press Release Sekretariat Bersama Ormas-Ormas Katolik DIY Atas Penyerangan Umat Katolik Lingkungan Gregorius Agung Paroki Keluarga Kudus Banteng Dusun Tanjungsari, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta



Sembahyangan Rosario merupakan sembahyangan rutinitas umat Katolik di seluruh dunia. Sembahyangan doa rosario biasanya diadakan pada bulan Mei dan Oktober, karena pada bulan tersebut umat Katolik secara khusus mempersembahkan doa dan persembahan bagi Bunda Suci Maria.
Layaknya tradisi, bagi umat Katolik di Indonesia, sembahyangan Rosario biasanya menjalankan doa tersebut dari rumah ke rumah selama sebulan penuh. Jadi pada bulan Mei dan Oktober, rumah dari umat Katolik akan dikunjungi oleh umat lain guna melaksanakan sembahyangan Rosario. Sembahyangan Rosario tersebut biasanya dilaksanakan mulai pukul 19.00 WIB.
Kejadian pada Kamis, 29 Mei 2014, pukul 19.00 WIB di Dusun Tanjungsari, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta, umat Katolik lingkungan St. Gregorius Agung Paroki Keluarga Kudus Banteng, mengadakan sembahyang Rosario rutin hari ke 29 dan pada malam itu rumah korban, Bapak Julius mendapat giliran rumahnya sebagai tempat sembahyangan rutin tersebut.
Sebagai sembahyangan rutin, maka sembahyangan Rosario bukanlah sembahyangan mengada-ada. Atau sembahyangan yang ingin memancing keributan atau sembahyangan di adadakan secera isidentil, akan tetapi sembahyangan terencana umat selama satu bulan penuh.
Dengan demikian umat Katolik DIY dan juga masyarakat DIY, kiranya perlu untuk diberikan pencerahkan agar, isu yang beredar di luar tidak simpang siur yang tentunya membawa keresehan bagi masyarakat DIY secara umum dan umat Katolik secara khusus.
Oleh karena itu, kasus penyerangan oleh kelompok-kelompok tidak bertanggungjawab terhadap kegiatan sembahyangan rutin tersebut, sangat di sayangkan dan tentu saja menceferai nilai-nilai toleransi sebagaimana tertuang dalam UUD NKRI. Ormas-ormas Katolik  yang tergabung dalam sekretariat bersama (Sekber) ormas Katolik DIY mengutuk keras tindakan kekerasan tersebut diatas.
Untuk itu, Ormas-ormas Katolik DIY dan didukung oleh Penghubung Karya Kerasulan dan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan DIY menyampaikan sikap atas kejadian yang telah menimpa umat Katolik lingkungan St. Gregorius Agung Paroki Keluarga Kudus Banteng, Sleman Yogyakarta.
Pertama, mengutuk dengan keras tindakan penyerangan dan kekerasan terhadap umat Katolik lingkungan St. Gregorius Agung Paroki Banteng, yang sedang melakukan sembahyangan Rosario rutin tersebut.
Kedua, tindakan penyerangan terhadap kegiatan keagamaan tersebut telah menyalahi UUD NKRI dimana, setiap warga negara berhak untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing serta beribadat menurut keyaninanya tersebut.
Ketiga, sembahyangan Rosario merupakan sembahyangan rutinitas umat Katolik pada bulan Mei dan Oktober. Pada bulan tersebut, umat Katolik di seluruh dunia mengadakan sembahyangan Rosario yang biasanya diadakan dari rumah ke rumah umat Katolik selama satu bulan penuh. Kejadian penyerangan tersebut tidak ada hubunganya dengan pemilu presiden 9 Juli Mendatang. Motif penyerangan tersebut murni “kekerasan” yang mengganggu aktifitas keagamaan tertentu.
Keempat, penyerangan tersebut menimbulkan dampak psikologis bagi korban yang berada di TKP karena para penyerang datang menyerang membabi-buta dengan menggunakan, batu, pentungan dan benda tumpul lainnya.
Kelima, penyerangan tersebut, meresahkan masyarakat Yogyakarta, dimana Yogyakarta merupakan kota istimewa, kota yang multikultur. Kejadian ini tentunya menjadi catatan bahwa keberadaan Yogyakarta sebagai kota Istimewa dan kota Multikultur menjadi tercoreng karena ulah para pelaku kekerasan tersebut.
Keenam, meminta kepada aparat penegak hukum dalam hal ini aparat kepolisian agar segera menuntaskan kasus tersebut. Menangkap para pelaku serta mengungkap motif dibalik penyerangan tersebut. Dengan demikian masyarakat tidak resah dengan keadaan yang ada. Hukum harus ditegakan seadil-adilnya kepada siapa saja yang telah melakukan kekerasan di DIY, tanpa memandang apapun.
Ketujuh, kita minta agar masyarakat DIY tetap menjaga kondusifitas di Yogyakarta. Jangan sampai terpancing oleh isu-isu yang beredar tidak jelas diluar sana. Sehingga Yogyakarta yang Istimewa ini tetap aman, nyaman, damai dan tentram.
Salam Yogyakarta Istimewa tanpa Kekerasan!!
Yogyakarta 30 Mei 2014
Hormat Kami,
Sekretariat Bersama Ormas-Ormas Katolik DIY


Hendri Santoso
Ketua Presidium PMKRI Cab. Yogyakarta St. Thomas Aquinas


 Ignatius Ganjar Tri
Ketua Pemuda Katolik Komda DIY


Ig. Madyantiwi Sudarto, SH, M.Si
Koordinator Presidium WKRI DPD DIY


Ignasius Suryadi, S.Pd
Ketua ISKA Korda DIY


Sigit Widiarto, SH
Ketua FMKI DIY

Agustinus Sukaryadi, S.Pd, S.Sos
Ketua PK3 Kevikepan DIY

(Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, Pemuda Katolik, Wanita Katolik Republik Indonesia, Ikatan Sarjana Katolik, Forum Masyarakat Katolik Indonesia)
didukung oleh
Penghubung Karya Kerasulan dan Kemasyarakata (PK3) Kevikepan DIY